3 Alasan Harus Setop Anak Jadi Media Promosi Rokok

Beberapa bulan lalu, saat saya menonton pertandingan badminton di TV, saya melihat seliweran iklan audisi beasiswa badminton untuk anak diatas usia 6 tahun. Saya pun sempat berseloroh dengan anak sulung saya:

Saya (S) : Qi, tuh ada audisi beasiswa badminton? Enggak mau ikutan coba-coba?

Anak sulung (A) : idiiih Bunda, lah sukanya sepakbola kok malah disuruhnya sekolah badminton?

S : hahaha... ya kali aja mau coba dan ternyata malah bakat di badminton.

A : ah, enggak ah Bun. Enggak minat sama badminton.

Publikasi audisi tersebut ditayangkan oleh media konvensional, yang pastinya akan ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dan saya yakin, pastinya selorohan saya tersebut banyak juga ditanyakan oleh para ibu yang merasa anaknya berbakat di badminton. Nah, selorohan tersebut untungnya tidak disambut dengan baik oleh anak saya. Loh, kenapa memangnya? Karena audisi tersebut disponsori oleh sebuah merk rokok.

Jadi, memangnya tidak boleh ikutan audisi yang diadakan oleh produsen rokok?

Berdasarkan hasil saya menonton diskusi di talkshow #putusinaja dalam program Ruang Publik di KBR, dengan tema Setop Anak Jadi Media Promosi Rokok, ternyata hal tersebut merupakan salah satu bentuk eksploitasi anak, loh.

Menurut Reza Indragiri, Pakar Psikologi Forensik dan Yayasan Lentera Anak, mengatakan bahwa eksploitasi anak itu ada dua jenis, yaitu eksploitasi seksual dan eksploitasi ekonomi. Audisi tersebut merupakan salah satu bentuk eksploitasi ekonomi pada anak.

Sedangkan menurut narasumber kedua, yaitu Nina Mutmainah Armando, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, bahwa dengan anak terpapar iklan rokok saat audisi berlangsung, maka akan tertanam image positif untuk merk rokok tersebut. Padahal kita mengetahui dengan pasti bahwa banyak sekali kerugiannya merokok, apalagi untuk anak-anak.

www.pixabay.com


Nah, dari paparan mereka selama talkshow tersebut, maka bisa disimpulkan 3 alasan untuk kita menghentikan anak jadi media promosi rokok di audisi tersebut:

Pertama adalah karena hal tersebut adalah satu bentuk eksploitasi pada anak dalam hal ekonomi. Hal tersebut dikarenakan relasi tidak seimbang antara penyelenggara dengan para peserta audisi. Penyelenggara dalam hal ini produsen rokok mendapatkan keuntungan besar. Peserta audisi ada sekitar 23 ribu, sedangkan yang menerima beasiswa hanya sekitar 200an. Proporsi yang tidak berimbang, bukan?



Kedua, anak menjadi sarana promosi gratis bagi merk rokok tersebut tanpa mereka sadari dan jadi ikut berpartisipasi dalam iklan yang membawa kerugian bagi dirinya maupun anak-anak lainnya. Kita mengetahui bagaimana merusaknya rokok tersebut bagi kesehatan kita, apalagi bagi anak-anak. Dan data dari Yayasan Lentera Anak bahwa terdapat peningkatan perokok pemula, termasuk perokok anak. Bayangkan, mereka (peserta audisi) menggunakan kaos dengan merk rokok tersebut yang tertulis besar sedangkan tulisan audisinya kecil selama masa audisi, akan merupakan sarana promosi efektif, sehingga anak-anak lain akan makin mengenal merk rokok tersebut.

Ketiga, dengan mengikuti audisi tersebut, maka para peserta audisi yang jumlahnya puluhan ribu itu akan mengenal merk rokok tersebut dan tertanam image (kesan) positif pada pikiran anak-anak tentang rokok dan jadi berpotensi kelak untuk jadi perokok.

Jadi, yuk kita setop anak jadi media promosi rokok dengan tidak mengikutsertakan mereka pada acara yang diselenggarakan merk rokok. Banyak cara untuk kita menyalurkan bakat anak tanpa harus mengeksplotasi mereka secara ekonomi. Iya, tadinya saya juga tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk eksploitasi. Untungnya saya mendengarkan talkshow #putusinaja di program Ruang Publik KBR, menambah wawasan banget tentang salah satu bentuk eksploitasi pada anak. Buat yang pengin dengar seri lainnya dari talkshow tersebut, pantengin radio-radio jaringan KBR di Indonesia.

Tidak ada komentar