Jadi Ibu Bahagia yang Asik Tanpa Toxic

"Happy Mom Raise Happy Kid"


Saat si bungsu masih bayi, saya mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah tangga. Dibantu suami sih, tapi beliau hanya bisa membantu saat pulang kantor atau akhir pekan. Hasilnya saya sering kelelahan saat malam hari. Komunikasi dengan suami jadi terbatas, karena kurangnya quality time untuk kami mengobrol santai.

Untungnya suami bertindak cepat menyelamatkan keberlangsungan komunikasi kami. Beliau memaksa saya untuk mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga pada orang lain. Tadinya saya juga menolak, karena memikirkan budget kami yang terbatas. Tapi setelah berdiskusi, dengan beberapa pertimbangan yang menurut kami penting, akhirnya kami mulai mencari orang yang bisa membantu sebentar di rumah.

Setelah menemukan orang yang bisa membantu, saya mendelegasikan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci baju, menyetrika, dan mengepel. Menurut saya cukup membantu. Terus, akhirnya setelah mendapatkan orang yang membantu, gimana?

Banyak perubahan signifikan menurut saya. Saya jadi lebih bisa bereksplorasi di dapur dan memasak atau membuat kue yang belum pernah saya buat sebelumnya. Saya jadi bisa punya sedikit waktu untuk diri sendiri, sekadar membaca buku sambil ngeteh di pagi hari sampai menulis postingan di blog.

Dan, yang terpenting, karena beban pekerjaan rumah tangga saya berkurang sedikit, saya jadi lebih sabar menghadapi anak-anak, lebih bisa fokus untuk membantu anak belajar atau sekadar ngobrol. Saya juga jadi punya banyak waktu buat suami buat ngobrol mulai dari topik yang enggak penting sampai penting banget.  Jadi ibu memang harus bisa mengatur manajemen tenaga ya.

Jadi, sekarang udah bisa jadi ibu yang bahagia dong? 

Dengan banyaknya 'toxic' di luar sana, ternyata jadi ibu bahagia itu memang perlu perjuangan. 

Jadi Ibu Bahagia yang #AsikTanpaToxic


Bahagia itu sederhana, dan bahagia itu kita yang ciptakan. Setuju banget. Tapi menciptakan kebahagiaan itu memang perlu perjuangan, di tengah banyaknya 'toxic' jadi ibu. Terlihat dong dari serunya para ibu melakukan mom war, padahal seringnya yang didebatkan itu hal sederhana yang tidak perlu diributkan. Asal saling menghargai pilihan sendiri dan tidak merendahkan pilihan ibu lain. 

Namun, memang ternyata tidak sesederhana itu menghindari 'toxic'  yang datang. Memang jadi ibu bahagia itu apa saja toxicnya? 

Menghindari Orang yang Nyinyir

"Ih, emang enggak masak ya di rumah?" tanya seseorang saat saya membeli ayam yang sudah diungkep dan tinggal goreng.

"Ya ampun, kok keluar-keluar terus sih? Anak-anaknya enggak keurus loh ntar".

"Badannya kurus banget. Enggak bahagia ya hidupnya."

Dulu-dulu iya, kalau ada yang nyinyirin apa yang saya lakukan bawaannya mau marah. Terus ngegas dong berusaha menjelaskan. 

Ada pepatah bahwa orang yang menyukai kita tidak memerlukan penjelasan kita, dan orang yang tidak menyukai kita akan mengabaikan penjelasan kita. Dan memang iya. Sedetail apapun saya menjelaskan, toh nyinyiran tetap ada.

Akhirnya saya membuat anti toxic nya dengan mengabaikan orang yang nyinyir dan tidak memasukkannya ke hati. Saya menganggap orang yang nyinyir itu hanya tanda tak mampu. Dengan mengabaikannya, ternyata saya jadi lebih santai dengan apa yang saya lakukan. Saya juga berusaha untuk tidak nyinyir dengan apa yang orang lain lakukan.

Bersyukur

Melihat teman-teman kuliah yang berprestasi di kantor, bisa jalan-jalan keluar negeri, memiliki keluarga yang harmonis sempat membuat saya minder. Saya juga menjauh dari mereka karena takut diremehkan atau enggak dianggap. Saya menyadari ternyata hal-hal tersebut membuat rasa bersyukur saya terkikis. 

Saya sampai membuat list yang isinya hal-hal yang membuat saya bersyukur sampai detik ini. Punya suami baik, anak-anak sehat dan bahagia, bisa memiliki pekerjaan untuk menghidupi keluarga kami, bisa membantu orang tua, dan lain sebagainya yang ternyata membuat syukur saya makin bertambah. Sempat menyesal karena walaupun tidak sempurna, tapi banyak hal yang bisa saya syukuri yang tak terhitung jumlahnya. 

Sekarang, saya ikut senang melihat rezeki dari teman-teman. Mendoakannya semoga berkah dan berdoa juga semoga saya bisa ikut mendapat nikmat seperti itu. Dengan tidak iri dengan rezeki orang lain, saya makin banyak bersyukur dengan hidup saya. Saya pun sudah tidak minder lagi dengan teman-teman kuliah saya, dan kembali menyambung silaturahmi dengan mereka yang memang ingin berteman. Kalau enggak mau berteman, ya tidak apa-apa, karena kita tidak bisa memaksa semua orang menyukai kita.


Tidak ada komentar