Mengajak Anak Memilih Jajanan Aman dan Sehat





Anak-anak saya kebetulan tidak terlalu suka jajan. Selain karena terbiasa dengan membawa bekal ke sekolah, juga karena sekolah si sulung tidak memperbolehkan para siswanya membawa uang dan jajan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Bisa dipastikan, salah satu kerempongan saya tiap pagi adalah membuatkan sarapan dan membawakan bekal untuk ketiga anak saya (dan ayahnya). Khusus untuk si sulung, hanya membawa bekal untuk waktu snack. Makan siang lebih memilih untuk katering dari sekolah. Alasannya bukan makanan katering lebih enak dari masakan bundanya, tapi karena dia kadang suka teledor dengan kotak makannya, dia takut lupa membawa kotak makan tu****warenya hahaha… Enggak deh, alasannya dia malas bawa kotak makan banyak-banyak kok.

Asyiknya mereka membawa bekal sih jadi lebih hemat dan saya jadi lebih yakin makanan mereka lebih terjamin bersih dan sehat.

Tapi ada satu peristiwa, yang akhirnya membuat saya memperbolehkan mereka jajan dengan syarat dan kondisi tertentu. Saat kelas 2, ada acara market day di sekolah si sulung. Dia boleh membawa uang sebesar yang ditentukan dan bisa jajan di lapak para peserta market day. Tapi bukannya jajan, dia malah bingung gimana caranya jajan. Akhirnya uang si sulung utuh karena tidak jajan apapun di acara tersebut.

Saya pun mulai memberikan anak-anak skill jajan yang baik, yaitu: tidak berlebihan, sesuai dengan budget uang jajan, dan bisa memilih jajanan yang baik dan sehat. Mereka meminta sendiri waktu jajannya, yaitu saat mengaji, les, ekskul dan belajar kelompok bersama temannya. Tapi itupun juga jarang banget uang jajannya mereka belanjakan, karena biasanya sebelum pergi sudah makan dulu dari rumah.

Sedangkan untuk jenis jajanannya, saya jelaskan pada mereka kriterianya agar mereka tidak jajan sembarangan. Harus di tempat yang bersih, tidak mengandung pewarna berlebihan, tidak jajan yang mengandung MSG dan kurangi makan dan minum yang manis. Saya jelaskan efek dari hal-hal yang saya larang tersebut, karena semua demi kesehatan diri mereka sendiri.

Alhamdulillah, para guru di sekolah anak-anak juga membantu menjelaskan ke para siswanya efek dari jajan sembarangan. Biasanya kan kalau guru yang ngomong langsung pada nurut ya?



Untuk makanan atau minuman manis yang masih masalah. Namanya anak-anak hobi banget sama yang namanya manis, apalagi permen. Kalau enggak dibatasi, bisa habis kali satu bungkus besar permen sehari. Karena melarang sama sekali masih sulit, maka saya berusaha membatasi.

Khusus untuk permen hanya boleh maksimal 2 buah per hari. Itu juga enggak boleh tiap hari. Lalu saya jelaskan jenis permen apa saja yang boleh mereka makan. Jadi kalau ada yang memberi mereka permen yang tidak pernah mereka lihat atau biasa mereka makan, lebih baik jangan dimakan dulu sampai diperlihatkan ke saya.



Oiya, salah satu permen yang saya perbolehkan mereka makan adalah Pindy Permen Susu. Saya perbolehkan karena permen chewy dengan tiga rasa (coklat, strawberry, vanilla) ini memiliki kualitas yang tinggi, baik dari kemasan maupun isi permennya. Rasanya permennya enak dan karena bentuknya chewy (lunak) maka mengurangi risiko tersedak pada anak. Kandungan nutrisi dari permen bisa dibaca dengan baik pada kemasan. Dan yang terpenting Pindy Permen Susu halal.

Saya stok Pindy Permen Susu di rumah. Seringnya saya beli rasa strawberry, varian kesukaan anak-anak. Biasanya permen saya jadikan reward kecil buat mereka. Misal, karena sudah bangun pagi tanpa perlu dibangunkan, sholat subuh di masjid, dan lain-lain. Buat seru-seruan saja. Dan yang terpenting, mereka mengetahui kalau setelah makan permen atau makanan manis lainnya, mereka wajib menggosok gigi.




Untuk mengetahui informasi Pindy Permen Susu lebih lanjut, bisa meluncur ke akun sosial medianya:

IG : @permenpindy_id
FP:  PermenPindy


Tidak ada komentar