[Curhat] Stress di Tempat Kerja?

Setahun yang lalu, saya sempat balik bekerja lagi setelah lama beralih profesi jadi Ibu Rumah Tangga. Ternyata, saat saya bekerja setelah jadi ibu dengan 3 bocah dengan saat saya single jauh berbeda. Iyalah, beda zamannya juga sih ya.

Dulu saya bisa fokus dengan kerjaan kantor, dan pulang ke rumah bisa langsung  istirahat. Palingan melakukan kerjaan rumah, tapi setelah itu bisa tidur nyenyak. Namun, bekerja dengan status emak 3 bocah, lain ceritanya. Ditambah saya tidak full kerja di kantor, melainkan banyak mengerjakan laporan di rumah. Tantangan lainnya adalah dalam sebulan saya harus meninggalkan mereka (kebanyakan ke luar kota) selama seminggu. Hepi sih dengan kerjaan seperti ini, namun bukan berarti tidak ada tantangan di tempat kerja.

Semenjak resign dan menjadi IRT,  saya jadi tidak menyentuh dan berhubungan atau update dengan dunia kerja, jadi saya harus mulai dari awal lagi alias nol. Dan mulai dari awal dengan status emak rempong, ternyata bukan perkara mudah bagi saya. Banyak adaptasi yang harus saya lakukan, dan ternyata banyak sekali kesalahan yang saya buat.

Pekerjaan saya saat itu memang berhubungan dengan langsung dengan perusahaan dan instansi pemerintah, sehingga laporan pun tidak boleh salah. Harus teliti. Pemula seperti saya, walaupun sudah berusaha keras untuk teliti, tapi tetap saja banyak salahnya. Stress pun mulai melanda saat kesalahan demi kesalahan saya lakukan, dan saya dianggap bodoh. Sedih dan stress. Karena stress, laporan saya malah jadi semakin berantakan, dan saya lebih mudah marah pada anak-anak karena hal-hal sepele.

Tempat kerja memang memiliki risiko tinggi untuk menimbulkan stress, karena tentu saja berhubungan dengan uang, sehingga tingkat sensivitas pun tinggi. Sebenarnya bisa saja saya terus beradaptasi dengan pekerjaan sehingga saya bisa menjadi mahir.

Balik lagi ke prioritas utama saya. Dulu saya berhenti kerja dengan alasan ingin fokus dengan keluarga. Kenapa setelah saya diberi suami dan anak-anak yang Insya Allah sholeh, saya malah meminggirkan mereka dari prioritas utama? Bagaimana kalau selama proses adaptasi di tempat kerja, saya belum mampu mengelola stress dengan baik, dan anak-anak pun jadi ‘korban’.

Setelah mempertimbangkan hal-hal tersebut, plus ternyata memang nggak ada lagi yang bisa jagain anak-anak selama saya dinas luar kota (ayahnya nggak mungkin banget cuti seminggu sekali), akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.

Stress memang akan selalu ada dimanapun. Namun, dari kejadian tersebut, saya belajar banyak. Alhamdulillah berproses untuk mengelola stress dengan baik, dan belajar banyak hal positif lainnya. Sekarang Alhamdulillah menikmati menjadi IRT dan blogger dengan segala kerempongan dan keasyikannya.


Kebetulan pada tanggal 4 Oktober, saya mendapatkan undangan dari Blogger Crony dalam acara temu Blogger bersama Kementrian Kesehatan RI dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober) dengan tema Mental Health in Workplace. Pas banget kan temanya. Saya bahas hasil liputannya di postingan selanjutnya, ya.

Komentar

  1. memang tempat kerja bisa dikatakan biang stress y mb klo kita ga bisa kelola diri hehehe i feel u mb

    BalasHapus

Posting Komentar