Pisang Cavendish Sunpride, Favorit Danish untuk Memulihkan Kondisi Tubuh



Sedih banget beberapa hari ini karena Danish lagi sakit. Sepertinya salah makan, karena keluhannya selain demam adalah sakit perut. Kasian liatnya, karena badannya lemas akibat muntah-muntah dan tidak mau makan. Alhamdulillah masih mau minum, jadi tidak dehidrasi.


Danish




Padahal, Haqqi dan Farghan juga sama-sama makan makanan yang sama. Tapi, mungkin karena sedang tidak fit, maka ambruklah dia. Setelah diingat-ingat, ternyata juga beberapa hari ini dia kurang serat. Maklum, Danish ini termasuk picky eater untuk buah dan sayur. Beda banget dengan Haqqi dan Farghan. Memang tiap anak unik, ya.

Akhirnya saya dan suami membawanya ke dokter langganan kami di H. Samali, Pasar Minggu. Jauh ya. Soalnya dokter ini yang biasa menangani anak-anak dari kecil, dan beliau tidak suka memberikan banyak obat, apalagi antibiotik. Berhubung perjalanan lumayan jauh dan bakalan macet, siangnya saya ke Hari-Hari Swalayan untuk membeli sedikit bekal buat di perjalanan. Saya membeli beberapa snack dan buah pisang cavendish Sunpride kesukaan anak-anak.

Oh iya, pisang cavendish Sunpride ini sudah kami konsumsi sejak Haqqi bayi, sehingga anak-anak pun sudah terbiasa dengan tekstur pulen dan rasa manis pisang ini. Sebelumnya, saya melihat ada poster tentang mengetahui tingkat kematangan pisang Sunpride. Ada gambarnya yang memperlihatkan warna dari kulit pisang dari mentah sampai warna dengan tingkat kematangan terbaik yang mengandung kandungan nutrisi tertinggi. Wah, saya jadi bisa memprediksi tingkat kematangan buah dan memilih yang terbaik.




Dan, hasil diagnosa dokter pun sama dengan dugaan kami. Karena pencernaannya sedang sensitif, jadi tidak bisa salah makan sedikit. Dokter pun menganjurkan agar lebih banyak lagi buat Danish untuk makan buah dan sayurnya.

Peer banget nih buat kami, soalnya selama ini kami sudah melakukan berbagai cara agar anak-anak menyukai buah dan sayur. Anak-anak masih belum terlalu menyukai sayur sih, hanya sayur tertentu dengan olahan tertentu juga, seperti sop dan sayur bening. 

Untuk buah alhamdulillah sih Haqqi dan Farghan termasuk fruitaholic. Tapi untuk Danish ya masih peer buat saya, karena hanya buah tertentu saja yang dia suka. Padahal kami sudah melakukan berbagai cara, antara lain:


1.    Menyediakan buah di meja. Paling tidak mereka melihat tiap hari dan jadi tertarik untuk nyamilin buah.

2.    Membuat jus buah.

3.    Story telling dengan tokoh buah, sambil cerita tentang kandungan dan khasiat masing-masing buah.

4.    Membuat suasana makan buah menjadi menyenangkan dengan makan buah bareng sekeluarga. Seru pas heboh berebutan buah, kayak lagi berebutan makan apa gitu.

Tapi ya gapapa sih, karena paling tidak masih ada buah yang dikonsumsi Danish walaupun jenis dan jumlahnya terbatas. Buah yang kami sediakan di rumah seringnya buah lokal loh, dan anak-anak suka. 

Ada 4 alasan mengapa kami lebih sering menyediakan buah lokal, yaitu:

1.    Buah lebih segar. Rantai distribusi pengiriman yang singkat, menyebabkan kualitas buah masih terjaga walaupun tanpa menggunakan pengawet. Jadi lebih segar dan sehat, kan.

2.    Lebih cocok dengan kondisi tubuh kita. Buah lokal kan banyaknya musiman, jadinya menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh kita pada saat musimnya.

3.    Mengurangi jejak karbon. Proses pengiriman buah yang singkat, menyebabkan jejak karbon yang ditinggalkan juga jauh lebih sedikit. Lumayan kan, hal kecil yang bisa membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

4.    Membantu petani buah lokal. Dengan mengkonsumsi buah lokal, kita juga membantu para petani buah lokal untuk terus berproduksi menghasilkan kualitas buah terbaik untuk kita.


Salah satu buah yang jadi kesukaan Danish adalah pisang. Selain murah dan enak, buah pisang ini banyak manfaatnya sih ya. Makanya kami sediakan hampir tiap hari di rumah. Lalu, selain enak dimakan begitu saja, juga bisa dibuat untuk berbagai macam olahan.



Pas Danish sakit ini, untungnya dia masih mau sedikit makan pisang, lumayan untuk melengkapi kurangnya kebutuhan gizi tubuhnya beberapa hari ini. Pisang memang memiliki kandungan gizi yang lengkap sih ya, seperti: air, serat, protein, gula alami, vitamin A, vitamin B (B1, B2, B6 dan B12), vitamin C, vitamin D, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, magnesium, seng, dan folat.


Berhubung pencernaan Danish sedang bermasalah, lumayan lah kandungan kalium yang tinggi dari pisang bisa membantu memulihkan sistem pencernaannya. Lalu, kandungan vitaminnya bisa meningkatkan imunitas tubuh Danish. Karena muntah-muntah, tubuhnya pasti kurang cairan. Kalium pada pisang bisa membantu menyeimbangkan jumlah cairan dalam tubuhnya. Dan, berhubung sudah beberapa hari tidak mau makan (karena mual), pisang bisa jadi solusi terbaik karena mengandung kombinasi tepat antara karbohidrat kompleks, serat, gula amino, dan mineral. Lumayan buat membantu untuk meningkatkan energinya sehingga tidak terlalu lemas.


Kesukaan Danish adalah pisang cavendish Sunpride. Pisang Pasti Sunpride. Dia suka soalnya rasanya manis dan teksturnya yang pulen. Penampakannya pun terlihat seperti buah impor, kulitnya mulus dengan warna kuning cerah.

Padahal pisang cavendish Sunpride ini ternyata 100% buah nusantara alias buah lokal. Kulitnya bisa mulus karena mulai dari pemilihan bibit sampai dengan pengemasannya dilakukan secara maksimal. Bibit pisang ini merupakan hasil kultur jaringan, sehingga bebas dari penyakit layu.


Pisang cavendish Sunpride ini ada beberapa jenis yang dijual di pasaran, yaitu cluster (terdiri dari 3-8 buah), finger (1-2 buah), dan single (hanya 1 buah dan dikemas dalam plastik khusus yang berlubang, sehingga suhu buah terjaga dan tidak menyebabkan jamur). Bisa membelinya sesuai kebutuhan jadinya. Saya seringnya sih membeli yang cluster. Dan asyiknya, buah yang ditanam di perkebunan di Lampung oleh PT Sewu Segar Nusantara ini, banyak terdapat di pasaran.

Eh, tapi saya baru tau loh kalau pisang cavendish yang saya biasa beli itu termasuk Low to Midland Banana yang artinya hasil pohon pisang yang ditanam di ketinggian 0-600 mdpl. Nah, Sunpride mengeluarkan produk pisang cavendish baru, yaitu Highland Banana, yang ditanam di ketinggian 600-1200 mdpl.



Pisang cavendis Sunpride Highland ini ditanam di dataran tinggi daerah Gunung Kelud, Blitar, Jawa Timur. Katanya rasanya lebih manis, kandungan nutrisinya lebih tinggi, dan teksturnya lebih pulen. Wah, jadi penasaran. Siapa tau Danish jadi makin doyan makan pisang.

Pisang Sunpride ini memang jadi buah favorit keluarga kami yang setia menemani segala aktivitas harian kami, agar kami bisa tetap fit. Pun meskipun sakit, membantu banget untuk melengkapi kebutuhan nutrisi yang berkurang banyak. Terima kasih pisang cavendish Sunpride, membantu menemani Danish dalam masa pemulihan sekarang ini. Semoga cepat sehat ya Nak, soalnya minggu depan udah masuk musim ulangan harian hiks.. Sehat..sehat...


Seru seruan dengan Pisang Cavendish Sunpride. Berhubung Danish sedang sakit, jadi nggak ikutan deh :(






Komentar

  1. Emang pisangnya enak bgt. Pulen.

    BalasHapus
  2. Pisang memang banyak banget manfaatnya ya mba, apalagi Cavendish, lebih manis dan enak. Salam kenal ya. BTW saya juga ikutan loh, kuylah berkunjung sejenak ke blog Ndeso saya

    BalasHapus
  3. Semoga segera sembuh ya mbak Danishny :')

    BalasHapus
  4. Aku harus coba nih, udah lama juga gak makan pisang. Kalau di rumah biasanya sering nemuin pisang, tapi di perantauan agak susah, harus beli maksdnya..hehe
    Harus berburu ke pasar atau gak supermaket. Tapi pengen coba lah, kapan-kapan sekalian maen..he

    Selain mudah dicari, memang mengandung manfaat ya..

    BalasHapus
  5. Wah serunya sampai berebutan pisang cavendishnya.

    BalasHapus

Posting Komentar