Ketika Penyakit Itu Merenggutnya...

12.12.2002

Tanggal cantik.

Saat orang lain sedang merencanakan momen bahagianya, seperti melahirkan atau pernikahan, saya sekeluarga malah mendapatkan satu ‘hal’ besar yang sama sekali tak kami duga sebelumnya.

Siang itu, saya dan teman-teman kantor baru balik dari keluar makan siang. Kami nyamil lagi tape ketan hijau, oleh-oleh dari seorang teman kantor, sambil mengobrol.

Di sela obrolan yang makin heboh, hape saya berdering.

“In, cepet pulang. Abah pingsan. Sekarang ada di RS Mitra Keluarga,” ujar seorang tante saya.

Saya hanya bisa bilang iya, tanpa bertanya apa pun. Otak saya blank.
Akhirnya, cepat saya minta ijin, dan pulang dengan taksi menuju RS.

Di jalan yang lumayan padat, saya sibuk bergumul dengan pertanyaan yang saya pun belum tahu jawabannya. Kenapa Abah bisa pingsan, padahal pagi masih sehat-sehat saja? Dan, kenapa kok pingsan bisa sampai ke RS ya? Dan, kenapa lainnya yang bikin otak saya makin blank aja. Hati saya sibuk memberikan penolakan menghadapi yang terburuk.

Hape saya berdering lagi.
“In, nggak usah ke RS. Langsung aja pulang ke rumah,” kata tante saya lagi.

Ke rumah ini maksudnya adalah rumah tante saya. Saya pun putar balik menuju rumah tante saya. Tante saya  menelepon dengan tergesa-gesa, jadi saya pun tak punya kesempatan untuk bertanya-tanya. Padahal pertanyaan saya pun jadi bertambah banyak. Kenapa cepat sekali di RS terus langsung pulang? Dan, kenapa saya tidak diberitahukan kondisi Abah? Anggapan saya, Abah udah lumayan kondisinya, jadi sudah boleh pulang.

Begitu sampai depan rumah Tante, kepala saya langsung keliyengan akut. Kaki rasanya tidak bertulang, dan saya sudah tidak menyadari sekitar saya. BENDERA KUNING. Loh, ada apa ini? Kenapa ada bendera kuning? Siapa yang meninggal? Tidak mungkin Abah, kan? Tidak mungkin.

Keajaiban banget rasanya saya bisa berjalan tegak dari depan gerbang rumah Tante, sampai akhirnya saya melihat jenazah itu. Saya hanya bengong. Menatap jenazah Abah sambil bersimpuh. Ya Allah, rasanya tak mungkin banget. Ini pasti mimpi. Saya sibuk mencubiti diri sendiri, berharap rasanya tak sakit. Saya ingin segera bangun, dan berharap ini hanya mimpi.

Tapi, ini nyata. Dan cubitan saya rasanya sakit. Akhirnya saya mulai terisak, dan menangis sesenggukan. Ya Allah. Kenapa? Abah tadinya sehat-sehat saja. Baru tadi pagi beliau mengantar saya berangkat kerja. Abah masih muda, baru saja usianya 46 tahun. Mana saya belum sempat membahagiakan Abah. Dan, saya juga tidak tahu bagaimana kondisi keluarga kami nantinya setelah ditinggal Abah.

Time will heal all the wounds. Beberapa bulan setelah kejadian itu, kesedihan saya mulai berkurang. Pun, saya tahu dengan terus mendoakan Abah di setiap sholat dan terus usaha jadi anak sholihah, Insya Allah semoga membantu Abah di sana.

Oiya, Abah didiagnosa meninggal karena penyakit jantung koroner. Kami pun tercengang, sebab selama ini Abah terlihat sehat dan termasuk jarang sakit. Tapi ternyata banyak faktor yang memang membuat Abah beresiko terkena PJK, yaitu merokok dan pola makan tak sehat.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penyempitan pembuluh darah kecil yang memasok darah dan oksigen ke jantung. PJK ini bisa karena dua hal, yaitu genetik dan gaya hidup.

Gejala dari PJK ini antara lain:

- nyeri dada saat aktivitas
- sesak napas saat aktivitas
- nyeri rahang, punggung, lengan
- pusing, sempoyongan, atau pingsan
- denyut jantung tidak teratur

Sebelum Abah meninggal, ternyata Abah mengalami hampir semua gejala tersebut.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Saya pun mencoba melakukan beberapa tindakan pencegahan (preventif) terhadap penyakit ini. Ada yang sudah saya lakukan, ada yang baru mulai saya lakukan. Beberapa tindakan preventif saya untuk menghadapi PJK ini, antara lain:

1.    Rajin olahraga. Saya mulai dengan jalan pagi dan senam kecil di rumah.
2.    Menjaga pola makan sehat.
3.    Melakukan deteksi terhadap tekanan darah, koleterol dan gula darah.
4.    Tidak merokok dan berusaha menjauhi diri dan keluarga dari lingkungan perokok.
5.    Lebih santai menghadapi sesuatu (tidak mudah stress) dan berpikir positif.


Semoga cerita ini ada manfaatnya buat pembaca dan sebagai pengingat lagi bagi diri saya sendiri untuk makin bersungguh-sungguh melakukan tindakan preventif, terutama terhadap PJK ini. Al Fatihah untuk Abah tersayang. 



http://www.inharmonyclinic.com/

Referensi tentang PJK saya dapat dari hasil interview dengan seorang teman yang berprofesi sebagai dokter.

Komentar

  1. penyakit jantung koroner ini kebanyakan enggak terdeteksi ya Mbak. Tahu-tahu aja langsung kena...
    Time will heal the wound. tapi kenangannya akan tetap ada sampai kapanpun. jadi teringat alm papa..

    BalasHapus

Posting Komentar