Seminar Parenting: Disiplin dengan Kasih Sayang (Bagian 1)

Haqqi (7,5 th) mulai menguji batas kesabaran bundanya dalam hal disiplin. Misalnya saja rutinitas untuk berangkat sekolah, rutinitas pulang sekolah, atau dalam hal sholat dan mengaji. Entah ekspektasi saya yang berlebihan, atau memang anak umur segitu mulai mempertanyakan alasan untuk semua hal yang harus dilakukannya, yang tentu saja menurutnya tidak menyenangkan. Makanya, niat banget buat ikutan seminar tentang disiplin dengan kasih sayang ini. Soalnya, walaupun kita menerapkan disiplin pada anak, tapi kan penginnya anak tetap hepi dong.

Seminar 'Disiplin dengan Kasih Sayang" ini, diadakan di Griya Wulan Sari, Bekasi dengan pembicara Ibu Elly Risman. Niat banget deh jalan pagi-pagi, dari ujung (Tangerang) ke ujung (Bekasi) hehehe...



Untungnya, saya dan Maeta diantar sama suaminya Maeta *rejeki emak-emak sholihah wkwkwk*. Jadi, jam 8 lewat dikit udah sampai di tempat. Dan, senengnya lagi, saya bisa dapat tempat duduk di baris depan, secara di tek-in kursi sama teman-teman di Grup 5 YKBH (Bu Welly, Bu Iza, dan Bu Nopi). Alhamdulillah, makasih bu-ibu cantik.


Disiplin = Masalah Parenting "Paling Rumit" di Dunia 

Menurut Ibu Elly Risman, generasi kita di Indonesia itu lemah dalam hal disiplin, cara berpikir, cara mengatasi masalah, proses mengambil keputusan, dan kemampuan menulis. Semua hal tersebut umumnya disebabkan dari kurangnya pola pengasuhan.



Disiplin adalah hal yang pertama kali harus mulai ditanamkan dalam pola pengasuhan. Tapi, masalahnya adalah kita tidak bisa menerapkan disiplin dengan mudah, karena disiplin adalah masalah "paling rumit" di dunia. Alasannya adalah:

- Tidak konsistennya pola disiplin antar pasangan. Karena terlahir dari pola asuh dan pengalaman masa kecil berbeda, jadilah gaya disiplin yang dianut pun berbeda.

- Perbedaan kepribadian anak dengan kedua orangtuanya.

- Ketidaktahuan orangtua mengenai sejauh mana kewenangan mereka terhadap anak

Terus, gimana dong cara memperbaikinya? 

Pertama, selesaikan dulu urusan dengan diri sendiri. Buang deh semua sampah masa lalu. Caranya dengan memaafkan, self healing, atau konsultasi ke ahlinya.


Kedua, selesaikan urusan dengan pasangan. Intinya adalah komunikasi. Masing-masing harus bisa menyelesaikan sampah masa lalu, dan bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pasangan. Dengan komunikasi, semua perbedaan pendapat bisa dikompromikan.

Ketiga, minta maaf dengan anak, dan mulai memperbaiki kesalahan.


Mulai memperbaiki kesalahan, dan mengatasi masalah disiplin memang tidak mudah. Kenapa? 


Karena:

(1) Tidak mudah menyeimbangkan keunikan anak, fleksibilitas dan batasan yang tegas

(2) Orang tua kebanyakan tidak tahu bagaimana cara penerapan disiplin yang tepat, kapan mulai diberlakukannya disiplin, dan akibat jangka panjang dan pendek dari keputusan pola disiplin yang dipilih.


Hukuman atau Hadiah? 


Gaya disiplin yang populer adalah dengan hukuman, hadiah, pukulan, atau paksaan. Orang tua yang memilih hukuman sebagai gaya disiplin, biasanya bertujuan agar anak menyesal karena berkelakuan tidak baik, dan takut untuk mengulangi kesalahannya lagi. Padahal, akibat negatif dari hukuman itu banyak sekali: merusak harga diri anak, anak jadi takut pada orang tua, atau justru malah makin berani melawan, anak jadi belajar berbohong.

Sedangkan, orang tua yang memberi hadiah pada anaknya agar terus berkelakuan baik, malah jadi mengajarkan anak untuk mengharapkan 'bayaran' untuk melakukan sesuatu yang baik.

Jadi, tidak boleh memberi hukuman atau hadiah pada anak? 

Tentu saja boleh. Tapi, dengan syarat: hadiah diberikan bukan sebagai 'sogokan' untuk berbuat baik. Hadiah pun tidak selamanya berupa materi (benda) dan harus disesuaikan dengan usianya. Sedangkan, hukuman diberikan dengan syarat anak sudah tahu peraturannya, dan sudah mendapatkan penjelasan tentang konsekuensi apabila aturan tersebut dilanggar. Aturan itu sendiri pun ada yang dibuat dengan kesepakatan bersama anak, dan ada yang memang harus dilakukan tanpa kesepakatan.

Bersambung, yaaa...

Komentar

  1. Si Kakak lagi ribut minta sepeda lipet.

    Hihihi...
    Liat nilai UTS yah...

    BalasHapus
  2. makasih sharingnya ya mak, aku lg brusha jg nih mendiaiplinkan diri sndiri lalu ke si kecil..
    ditunggu kelanjutannya yak :)

    BalasHapus
  3. Kadang memang bingung ya kapan anak diberikan pujian.hukuman dan hadiah. Harus pintar memilah tepatnya kapan digunakan punnishment dan reward itu diberikan ^ ^. Semoga aku bs konsisten dengan disiplin yg diterapkan selama ini, memang ttg disiplin ini kdg kitanya yg malah ga konsist hehe

    BalasHapus

Posting Komentar