Petualangan Kecil di Taman Wisata Alam Angke

TWA Angke ini termasuk salah satu tempat wisata alam yang jadi viral di berbagai media sosial. Penasaran juga, soalnya sepertinya banyak spot foto yang bagus *jiaah, narsis*. 

Beberapa kali antar jemput saudara dan keluarga ke bandara menjelang Lebaran, kami jadi familiar juga dengan pemandangan hutan bakau yang ada di kiri kanan jalan tol bandara Soekarno-Hatta. 

Pas hari ke 4 Lebaran (selesai jadwal silaturahmi dan beberes cucian *teteuuup*), saya dan suami mendadak kepikiran ajak anak-anak ke sana. Ya, hitung-hitung, pengenalan awal terhadap alam umumnya, dan ekosistem hutan khususnya. 

Kami menuju ke sana dengan mobil pribadi, jadi aksesnya lebih mudah. Menuju tol bandara, kemudian keluar tol Pantai Indah Kapuk (PIK). Dari situ, pas bundaran langsung belok kiri. Ada papan petunjuknya juga kok, jadi jelas. Seletelah melewati sekolah Tzu Chi yang buesaaaar banget itu, kami langsung menemukan tempatnya. 

Tiket masuknya murah kok. Kalau pas saya browsing sih tiket per orang itu Rp25.000;. Cuma pas kami ke sana, ternyata tiket dewasa dikenakan Rp20.000; dan anak-anak Rp10.000; Kalau bawa mobil tambah lagi Rp10.000; dan motor Rp5.000; 

Kami tadinya menduga tempat ini bakalan sepi pengunjung, ternyata ramai juga. Kalau pas saya datang, pengunjung yang dominan justru anak-anak muda yang berkelompok dan banyak juga yang berpasangan. 

Mumpung ingat nih, pas diperiksa tiket masuk, bakalan ditanya bawa kamera saku dan DSLR tidak. Soalnya kamera dilarang digunakan di kawasan. Pengunjung hanya boleh menggunakan kamera HP. Kalau ketahuan petugas menggunakan kamera di kawasan tersebut, katanya akan didenda sebesar satu juta rupiah. Wow banget ya dendanya. Untuk alasan pastinya pelarangan, saya juga nggak tau sih. 

Kemudian, saya juga baca, kalau pengunjung dilarang membawa makanan ke dalam kawasan TWA Angke. Tapi, pas kami masuk, ternyata tas kami tidak diperiksa. Huhuhu...tau gitu, kami bawa saja makanan kami ke dalam hihihi.... Soalnya, menurut kami, makanan dan minuman yang ada di dalam kawasan, jadi lebih mahal gitu. 



Senjata perang kami adalah HP, minuman, topi. Soalnya panaaaas banget. Maklum, kami datang menjelang tengah hari. Tapi kok ya anak-anak tetap semangat ya menjelajahi kawasan ini. Emak bapaknya malah yang tepar *maklum lah ya, faktor U* 

Pemandangannya baguuuus. Hutan bakaunya keren banget. Kami bahkan sempat menemukan dan mengamati seekor biawak besar yang sedang "ngadem'. Kami juga menemukan beberapa jenis burung air dan ikan. Sayangnya, tidak ada pemandu sih ya yang bisa cerita ke anak-anak tentang kawasan ini. 



Anak-anak pertama kalinya berjalan di jalan dengan menggunakan potongan-potongan kayu kecil. Awalnya rada takut, soalnya ngeri jatuh. Lama-lama sudah terbiasa, dan bahkan bisa jalan dengan ngebut. Dududuh... 









Kami jalan sambil mengamati ekosistem, hutan bakau, kamar-kamar penginapan, sampai ke bagian pantai menuju laut. Yang ini jalannya super jauh, saya hampir saja pingsan *abaikan, ini lebay saja*. 



Setelah puas jalan, rencananya kami pengin menyusuri hutan bakau dengan perahu atau speed boat. Tapi, ternyata antri. Kami baru dapat giliran 2 jam kemudian. Duh, udah kelaparan nih kami. Akhirnya ya batal deh. Lain kali ke sini lagi ah. 

Untuk harga, yang saya baca di papan sih:

Speed boat isi 8 : Rp400.000;
Speed boat isi 6: Rp300.000;
Perahu/kano: Rp100.000; (Ini tidak pakai 'pak supir'. Kalau ingin menggunakan jasanya, bayar lagi Rp50.000;)

Tips dari saya kalau mau ke sini: 

1. Bawa topi atau payung. 
2. Kondisi badan harus fit. 
3. Kalau mau menyusuri hutan bakau lewat sungai, pertama kali datang, langsung booking perahu atau speed boat-nya. Baru habis tuh jalan dan foto-foto deh. Foto is a must deh hehehe.... 
4. Bawa minuman yang banyak. 
5. Pakai alas kaki yang nyaman untuk dipakai jalan jauuuuh. 
6. Kawasan ini buka dari jam  8-18 WIB. Jadi mendingan kalau datang sekalian pagi (biar masih segar), atau malah menjelang sore (udah adem).
7. Yang terpenting, jangan membuang sampah sembarangan ya. Soalnya saya lihat di beberapa titik, sudah mulai banyak sampah. Hiks, sedih deh lihatnya.

Komentar

  1. Wisata yang seger ini, btw biawak nya itu bikin serem Mba sebab kalau gigit bisa kena rabies kita. Amankah biawak itu Mba?
    Kalo dari Lebak Bulus kayaknya ke sana cukup naik Busway soalnya macet :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aman Teh, insya allah :D soalnya ketinggian kita kan beda hihihi... Maksudnya, cukup sulit lah aksesnya buat menjangkau kita. Kali ya Teh :D

      Hapus
  2. Pemandangannya keren yaaa. Pengen ke sana. Kalau naik angkutan umum gimana caranya yaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya sih naik BKTB yang ke Kapuk, trus turun di sekolah Tzu Chi. Dari situ jalan udah lumayan deket mak :)

      Hapus
  3. Suasananya mirip mangrove wonorejo Surabaya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, mirip ya ternyata *abis browsing* :D

      Hapus
  4. wah.. baru tau saya ada lokasi wisata TWA di angke ... secara tinggal di jakarta juga ... weleh-seleh,, untunglah ada ibu Indri yang meliputnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi...iya, ini taunya juga karena banyak liat di medsos. Jadi penasaran :D

      Hapus
  5. Menarik Mbak! Apalagi ramah untuk anak-anak. Tapi kalau siang terik banget ya Mbak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teriiik bingiiit, entah kenapa kok anak-anak pada kuat yak :D

      Hapus
  6. sama seperti di pulau bidadari ya ada biawaknya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, tapi ini cuma nemu satu sih mbak

      Hapus
  7. waah.. samaan kitaa. aku juga baru nyeritain ke sini, padahal udah lama perginya, huehehe.. toss dulu ah :)

    BalasHapus

Posting Komentar