[Reportase] Seminar Parenting: Waspadai Kasus Bullying & Bunuh Diri pada Anak, Tingkatkan Peran Orang Tua sebagai Sahabat Anak

Seneeeng banget, akhirnya saya bisa ikutan seminarnya bu Elly Risman. Ini perdana ketemu beliau, jadi rada deg-degan gitu. *ngalah-ngalahin mau ketemu artis* *grin*

Tadinya sempat ajak-ajakin teman-teman. Berhubung banyak yang berhalangan, pergi sendiri aja akhirnya. Eh, sampai di sana kenalan dengan sesama mahmud *sok ngaku-ngaku*, yang ternyata anak keponakannya adalah teman sekelasnya Haqqi. Hihihi… dunia memang sempit, ya.

*skiiip* Pengantarnya panjang ajaaah

Seminar Parenting dengan tema "Waspadai Kasus Bullying & Bunuh Diri Pada Anak, Tingkatkan Peran Orang Tua sebagai Sahabat Anak" ini diadakan pada Kamis 26 Februari 2015 di Titan Center, Bintaro. Seminar ini menghadirkan Elly Risman (psikolog dan trainer Yayasan Kita dan Buah Hati) dan pembicara tamu Diana Dewi.




Seminar dimulai dengan kisah Ibu Diana Dewi, ibu dari Aca, korban bullying di ekskul pecinta alam SMA 3 Jakarta. Bullying yang memisahkannya dari buah hati tercinta, membuatnya terus aktif bersama Genab (Gerakan Nasional Anti Bullying) untuk memberikan edukasi tentang bahaya bullying bagi generasi bangsa.


Setelah story telling dari salah satu murid di SMPIT Auliya, Bintaro (saya sampai terpana mendengar bahasa Inggrisnya yang fasih pisan), ibu Elly Risman mulai menuturkan tentang seluk beluk bullying dan bunuh diri pada anak ini.

Sebelum menuturkan tentang bullying dan bunuh diri, ibu Elly Risman menjelaskan bahwa semuanya berpulang lagi pada pola asuh orang tua. Dan, inti dari semuanya adalah komunikasi orang tua ke anak.



Menjadi orang tua adalah hal yang berat, karena harus mempertanggungjawabkan amanah-Nya kelak di akhirat. Tapi, justru jadi orang tua itu tidak ada sekolah khususnya.

Ibu Elly Risman menjelaskan, bahwa awal persiapan menjadi orang tua, seharusnya adalah menguasai tahapan perkembangan anak dan bagaimana cara otak mereka bekerja sesuai dengan tahapan umurnya. Sebab, semua itu sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan masa depan anak.

Setelah itu, orang tua juga harus mengetahui cara berkomunikasi dengan anak. Perkara berkomunikasi dengan anak ini, bukan masalah kecil. Karena bila komunikasi tidak dilakukan dengan baik, maka akan menyebabkan beberapa hal negatif pada anak, seperti:

- Melemahkan konsep diri
- Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, dan sulit diajak kerjasama
- Merasa tidak berharga dan tidak percaya diri
- Tidak terbiasa berpikir, memilih, dan mengambil keputusan bagi diri sendiri




Orang tua sering tidak sengaja melakukan kekeliruan dalam berkomunikasi dengan anak, atau sering disebut 12 Gaya Populer Komunikasi Orang Tua, yaitu:

1. Memerintah
2. Menyalahkan
3. Meremehkan
4. Membandingkan
5. Mencap/label
6. Mengancam
7. Menasehati
8. Membohongi
9. Menghibur
10. Mengkritik
11. Menyindir
12. Menganalisa


Bu Elly mencontohkan dan mendeskripsikan semua kekeliruan tersebut, sehingga para peserta seminar bisa mendapatkan gambaran jelas.

Nah, kekeliruan komunikasi tersebut bisa membuat kantong jiwa anak menciut, atau bahkan hampa. Dan, kantong jiwa yang seperti ini yang salah satunya akan membuat anak terlibat dalam bullying.

Menurut KemenegPPA (2014) 1 dari 4 anak menjadi korban bullying di sekolah.

Bullying adalah kegiatan yang disadari, disengaja untuk melukai, dan menanamkan ketakutan. Tindakannya biasanya melalui ancaman dan menciptakan teror.

Bentuk bullying sendiri adalah:

1. Fisik
2. Verbal
3. Relasional (diabaikan, disisihkan, dikucilkan)

Pelaku bullying ini bisa siapa saja, antara lain: kakak atau adik, anak laki-laki atau perempuan, orang dewasa (orang tua atau guru), dan seorang atau kelompok.

Lokasi bullying bisa terjadi di berbagai tempat, seperti: di rumah (keluarga), sekolah, sekolah asrama, dan yang terbaru adalah cyberbullying. Cyberbullying sejauh ini adalah tindakan bullying yang paling kejam dibandingkan bullying biasa, dan di beberapa negara banyak menyebabkan korban bunuh diri.



Bullying terjadi jika ada pelaku, korban, dan penonton. Ketiga peran tersebut, harus diatasi masalahnya, karena semuanya memiliki efek negatif. Orang tua harus waspada melihat tingkah laku anaknya, dan bisa melihat apakah anaknya memiliki tanda-tanda sebagai pelaku, korban, atau penonton.



Bu Elly menjabarkan beberapa tanda-tanda anak jadi korban bullying, antara lain:


- Tidak mau pergi sekolah
- Rute yang ditempuh tidak lazim alias ada sesuatu yang dia hindari
- Prestasi menurun
- Tidak mau terlibat dengan keluarga dan sekolah (penyendiri)
- Anak pulang sekolah dalam kondisi kelaparan
- Anak jadi suka mencuri uang
- Anak sering merasa sedih, tapi mudah marah
- Baju robek dan berantakan
- Cedera fisik yang tidak konsisten dengan penjelasannya
- Sakit perut, pusing, panik, dan sulit tidur 


Kadang-kadang, tidak hanya anak yang pendiam, pemalu, penyendiri, minder yang menjadi korban bullying. Bahkan anak dengan berbagai kelebihan dan prestasi pun bisa menjadi korban bullying.

Sebagai orang tua, apa yang bisa kita lakukan untuk menyiapkan anak menghadapi dunia bullying?

1. Jujur pada diri sendiri dengan mengenali anak yang berpotensi sebagai pelaku, korban, atau penonton.
2. Mengenali penyebab bullying, yang antara lain adalah karena pengaruh keluarga, sekolah, media, dan masyarakat. 

Keluarga

Oiya, menurut bu Elly, keluarga menyumbangkan kontribusi sebesar 80% dalam dunia bullying. Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah, seperti:

- Orang tua yang terlalu sibuk sehingga pengasuhan dan pendidikan agama anak di Sub Kontrakan
- Cara pengasuhan tipe helikopter atau sersan pelatih
- Komunikasi buruk, tergesa-gesa dan seadanya
- Gaya orang tua otoriter, yaitu tuntutan pada anak tinggi, tetapi dukungan dan kasih sayang ke anak rendah 
- Inkonsistensi antara ayah dan ibu
- Kerap menghukum anak secara berlebihan
- Situasi rumah yang penuh stress, pertengkaran, agresi, dan permusuhan
- Perlakuan buruk terhadap tenaga penunjang rumah tangga
- Tidak ada waktu untuk melakukan dialog dengan anak

Media

Berita atau informasi negatif dari media cetak, elektronik dan gadget (internet, games, HP)

Sekolah

Anak yang masuk sekolah terlalu dini, beban pelajaran yang berat, jam pelajaran yang panjang, banyaknya PR dan les, ‘bekal’ dari rumah yang minim, perlakuan guru, dan belajar dari kekerasan teman.

Karikatur tentang betapa sulitnya jadi anak sekolah saat ini


Jangan salah ya, bullying pada anak-anak bukanlah aktivitas normal yang akan berlalu dengan sendirinya saat mereka dewasa. Jadi bullying pada anak-anak harus segera ditangani dengan baik, sehingga tidak akan menyebabkan gangguan perilaku yang lebih serius di masa remaja dan dewasa.


Beberapa tips menghadapi bullying di sekolah, adalah:

- Mengajarkan pada anak untuk menghargai dan membela diri

- Menanamkan keyakinan pada anak bahwa pelaku bullying adalah anak yang bermasalah dengan dirinya sendiri

- Belajar menyembunyikan kemarahan dan kesedihannya di depan si pelaku bullying.

- Mengajarkan anak untuk berdiri dengan kepala tegak dan berani memandang mata si pelaku bullying

- Orang tua menyiapkan anak menghadapi bullying dengan cara ROLE PLAY

- Waspada dan menghindari situasi sendirian

- Berusaha tetap tenang dalam situasi apa pun

- Bila dalam bahaya segera menyingkir

- Menjalin hubungan baik dengan teman lain

- Selalu BERDOA


Langkah selanjutnya, pada dasarnya orang tua harus memperbaiki komunikasi pada anak, dengan cara:

1. Membaca bahasa tubuh anak
2. Menebak perasaan anak
3. Mendengar aktif pada cerita atau keluhan anak


Komunikasi itu dominan dengan bahasa tubuh, dan selanjutnya nada suara. Kata-kata hanya menyumbang 7% dari komunikasi yang efektif pada anak.



Sebagai orang tua, kita harus bisa menjadi sahabat anak. Nah, menjadi sahabat anak dalam mengatasi bullying, antara lain:

- Menyadari kesalahan yang kita lakukan

- Memperbaiki hubungan dengan anak, dimulai dengan meminta maaf pada anak atas segala kesalahan

- Mereparasi harga diri anak dan menyembuhkan luka jiwanya

- Mendampingi anak dan memberikan keyakinan akan rasa aman dan perlindungan

- Memberikan bekal pengetahuan agama pada anak, dan aturan agama tentang hidup dalam keluarga dan bersama orang lain

- Mencermati gejala-gejala perubahan pada anak

- Segera lakukan pendekatan pada anak dengan mendengar perasaan dan penuh perhatian. Ingat, tanpa KRITIK! 

- Jangan sekali-kali menyalahkan atau merendahkan anak, apalagi menempatkan diri di posisi yang ‘berseberangan’ dengan anak. - Mengatur langkah yang akan ditempuh

- Melaporkan dan membicarakan pada pihak sekolah bila ditemukan tanda-tanda anak menjadi pelaku, korban, atau penonton bullying

- Melakukan penyelidikan tentang apa yang terjadi

- Mengajarkan anak cara menghadapi bullying

- Menciptakan kesempatan atau waktu berkualitas bersama anak untuk pemantapan ‘bekal’ menghadapi bullying



Setelah semua ikhtiar yang bisa kita lakukan, selanjutnya kita hanya bisa menjaga dan melindungi anak dengan DOA.

Sebelum sesi tanya jawab, ada pembacaan puisi (yang keren bingit penjiwaannya) dari murid SDIT Auliya, Bintaro. Sesi tanya jawab ini membuat saya terpana, karena hampir semua yang bertanya adalah orang tua dengan anak yang korban bullying. Dan, hampir semua kasus bullying mereka terjadi di sekolah.

Reminder banget buat memperbaiki komunikasi dengan anak, karena seringnya kekeliruan komunikasi tersebut bukan sengaja kita lakukan.

Semoga keluarga dan anak-anak kita dijauhkan dari bullying. Aamiin.

Komentar

  1. Aamiin... TFS mbak..
    Memang bullying ini hampir ada di setiap sekolah

    BalasHapus
  2. Tambah berat euy jadi orang tua jaman sekarang. Jadi anak jaman sekarang mungkin jauh lebih berat juga dibandingkan jaman kita kecil dulu ya. Salam kenal mak. Tks 4 sharing reportasenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mak. Sama-sama, semoga manfaat. :)

      Hapus
  3. TFS mak..mmg boleh ya share foto slide seminar bu Elly? Setahu saya sih mrk suka keberatan lho...kecuali utk konsumsi pribadi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah iya mak Fee, saya lupaa. Makasih ya sudah mengingatkan. :)

      Hapus
  4. Jadi ortu harus siap belajar terus ya :) Makasih sharingnya.

    BalasHapus
  5. terima kasih sharenya ya. Smeoga anak-anak bisa jauh dari bully

    BalasHapus

Posting Komentar