Pancake Istimewa Raka



Sekeluarnya dari kamar Ibu, Raka duduk di ruang tamu. Matanya menatap televisi yang menyala, tetapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Ibu. 

Ingatannya melayang saat kemarin mengantarkan Ibu ke dokter. 

“Ibu, dua hari ini harus istirahat total. Raka, ingatkan ibumu untuk tetap di tempat tidur, ya!” 

Raka mengangguk. Dia bertekad akan membuat Ibu istirahat. 

Dilihatnya sebuah album foto di bawah meja yang menyembul dari tumpukan koran. Perlahan Raka mengambilnya, dan mulai membalik album tersebut. 


*** 

Dan, hari penuh ‘penderitaan’ bagi Sara dimulai. Bukan karena sakitnya, tapi karena Raka. 

“Ibu, ingat. Tidak boleh bekerja,” tegur Raka melihat Sara menyalakan laptop. 

Dengan tegas, Raka mengambil laptop Sara dan menyimpannya di kamarnya. Tujuannya, supaya ibunya tidak bisa mengambil laptop. Padahal, niat awal Sara hanya ingin mencari-cari artikel di internet. 

“Ibu, jangan mikir yang berat-berat.” 

Raka mengambil buku-buku tebal Sara dan kembali menyimpannya di kamarnya. Sara tertawa melihat Raka, karena sebenarnya buku-buku yang diambil itu hanya novel. 

Sara sempat ingin protes dengan kelakuan Raka yang over protective. Tapi, Sara langsung menutup mulutnya melihat wajah Raka yang serius. 


*** 

Dua tahun yang lalu, Raka merasa dunianya runtuh. Semuanya berawal ketika Raka dijemput oleh neneknya saat sedang di sekolah. Neneknya tidak berkata apa-apa. Tapi, dia mulai bertanya-tanya dalam hati saat melihat bendera kuning di depan rumahnya dan banyak orang yang bertamu ke rumahnya. 

Raka tak sanggup bertanya pada neneknya. Kepalanya terasa berputar. Karena, hanya ada dua kemungkinan siapa yang meninggal, Ayah atau Ibu. Dan, saat akhirnya Raka sampai juga di depan pintu rumahnya, dia melihat Ibu yang segera mendatangi dan memeluknya sambil berurai air mata. 

Tubuh Raka lunglai, dan akhirnya tak sadarkan diri. Begitu siuman, Raka bagaikan patung yang tanpa ekspresi. Tanpa raut sedih, tanpa air mata. Dia menyimpan tangisnya. Kesedihannya.

"Aku harus kuat. Demi Ibu. Karena kini, hanya ada kami berdua," tekadnya.



***
Sara menatap punggung anaknya yang melangkah keluar kamar. Dia merasa amat bersalah pada Raka. Meninggalkannya sepanjang hari dengan kesedihannya.

"Maafkan Ibu, Nak."

"Ah, andai Ibu tidak harus bekerja. Ibu akan menghiburmu dan menemanimu melewati semua ini."


Ayah Raka  manajer di sebuah perusahan otomotif terkemuka. Sedangkan, Sara seorang karyawati di bank. Walaupun, mereka berdua sibuk dengan pekerjaannya, tetapi mereka selalu menyempatkan diri untuk berbincang bersama. 

Sesudah makan malam bersama, biasanya suaminya akan menyiapkan makanan camilan untuk sekadar teman ngobrol mereka bertiga. Mulai dari popcorn, roti bakar, dan lain-lain. 

Sara tidak pernah suka berkutat di dapur. Dia memilih pekerjaan bebersih rumah, dibandingkan harus berlama-lama memasak. Lagipula, masakan suaminya, jauh lebih enak darinya.

"Raka, ayo kita main catur!"
"Ayo Raka, sekarang waktunya bantuin Ayah ngisi TTS nih!"
"Rakaaa... Kita main monopoli, yuk!"

Dan, mereka pun asik bermain sambil nyamil.

Dari semuanya, Raka akan sangat senang bila diajak Ayah 'bermain' di dapur. Dia menikmati bagaimana menimbang bahan-bahan kue, mengaduk adonan, mencium wangi bahan-bahan mentah, apalagi wangi kue yang baru matang.

"Raka, bantu Ayah cuci piring. Jangan kabur dulu!"

Bagian yang paling tidak Raka senangi dalam kegiatan memasak, adalah mencuci piring. Tapi, berhubung kegiatan tersebut dilakukan bersama ayahnya, maka kegiatan membosankan dan melelahkan itu akan berakhir dengan tawa, teriakan, dan baju-baju yang basah. Seru!

Tinggal Sara yang pasrah melihat hasil akhir kegiatan mereka di dapur, karena dia kebagian membersihkan lantai dapur yang kotor dan tambahan tumpukan cucian baju.

Sayangnya, sejak suaminya meninggal, Raka sama sekali tak mau menyentuh dapur. Kalau bisa sepertinya dia ingin menghilangkan bagian rumah tersebut agar tidak pernah ada.

Pertahanan diri Sara mulai runtuh. Melihat raut wajah Raka tadi, Sara mulai menyadari bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Raka.

"Raka, apa yang harus Ibu lakukan, Nak?"

Tangisnya pun semakin keras. Sara menutup mulutnya dengan bantal, berusaha agar Raka tidak mendengarnya.


***

Raka tercenung melihat album foto tersebut. Foto-foto mereka bertiga. Tertawa ceria tanpa beban.

Matanya terpaku pada foto Ayah dan dirinya yang sedang beraksi di dapur.

“Ibu, iseng sih,” cengir Raka di sela isaknya.

Isak Raka terhenti saat melihat foto pancake buatannya.

Ayah dan Ibu sangat senang dengan pancake buatan Raka. Lima tumpuk pancake besar yang lezat dan empuk, disiram dengan lelehan coklat dan sedikit madu. Sentuhan terakhir, ditaburi dengan aneka buah-buah yang seadanya di kulkas.

Pernah Raka menaburi pancakenya dengan buah kedondong. Bayangkan, kedondong! Ayah dan Ibu bengong melihatnya. Walaupun setelah dimakan rasanya memang tidak cocok, tapi ternyata pancake tersebut ludes.

“Raka senang memasak?”
“Iya, Yah. Sangat suka."
“Teruslah memasak ya Nak. Jangan berhenti belajar membuat makanan enak. Sebab, kasihan Ibu kalau ingin makan enak di rumah, tapi Ayah tidak ada,” canda Ayah.

Ibu hanya bisa manyun mendengar percakapan mereka.

“Raka, jangan terus bersedih. Kenang dan doakan selalu ayahmu. Tapi, hidup terus berjalan. Ingat, masih ada ibumu,” ingat Nenek sambil mengusap kepalanya.


Raka menatap dapur rumahnya. Terlihat kosong. Iya, memang kosong. Soalnya, sejak Ayah meninggal, mereka jarang sekali menggunakan dapur.

Dilangkahkan kakinya ke dapur. Dia merasakan buncahan kerinduan. Terhadap ayahnya. Terhadap kegiatan memasak mereka di dapur.

Dadanya sesak, dan tanpa bisa ditahan, tangisnya meledak. Dalam diam. Kesedihan yang selama ini dipendamnya terasa tak tertanggungkan.

Tangisnya terhenti saat mendengar isak Ibu. Cepat diusap air matanya dan lari ke kamar Ibu.


***

"Ibu, ada apa?"

"Maafkan Ibu, Raka. Maaf. Ibu sibuk dengan kesedihan Ibu, sampai melupakan kesedihanmu. Maafkan Ibu ya," tangis Sara pecah.

Mereka berpelukan dan menumpahkan kepedihan mereka selama ini lewat derasnya air mata.

"Raka, boleh Ibu membantumu ya? Ibu ingin membantu Raka melewati kesedihan ini."

"Tapi, Ibu juga gak boleh sendiri. Ibu juga harus mau ditemani Raka saat sedih. Ibu bilang ya sama Raka, kalau ada apa-apa."

"Oke, Raka juga, ya."

Raka membisu.

"Hmm, Ibu. Aku ingin belajar memasak lagi. Ibu sih gak harus bantu Raka di dapur, tapi tolong siapkan bahan-bahannya ya, Bu."

"Ok. Jangan lupa, buatkan Ibu pancake istimewa Raka, ya," kedip Sara.


#CerpenKuliner
#TTG4

Komentar

  1. wah udah nulis ya. Pancake yang selalu di kenang ya

    BalasHapus
  2. Aiihhh kereeenn maakk, aku ikut terhanyut bersama cerita *jempol*

    BalasHapus
  3. Bagus, mbaak
    aku masih nulis nih cerpennya :D

    BalasHapus
  4. Waduuh, Mbak Indri cepet banget jadinya. :) bagus lagi cerpennya

    BalasHapus
  5. ternyata cerpen, kirain artikel resep, hihihi...
    moral ceritanya bagus :)

    BalasHapus

Posting Komentar