Resolusi Hijau 2015: Mulai dari Hal Kecil; Mulai dari Keluarga

Musim hujan ini, lingkungan rumah saya sering tergenang. Beberapa rumah bahkan sampai kemasukan air alias banjir. Padahal perumahan kami tidak dekat dengan sungai. Usut punya usut, ternyata biang keroknya adalah saluran drainase perumahan kami. Banyak sumbatan di saluran drainase kami, karena banyaknya SAMPAH. 

Perilaku membuang sampah di sembarang tempat ini ternyata masih sering dilakukan. Sedih melihatnya, karena perilaku yang kelihatannya sepele itu ternyata menimbulkan dampak yang besar bila dilakukan oleh banyak orang.

Dampak Membuang Sampah Sembarangan (http://kampung-hijau-matahari.blogspot.com)



Resolusi Hijau 2015 

Seperti orang kebanyakan (mainstream banget), saya juga memiliki beberapa resolusi untuk tahun 2015. Hmmm, lebih tepatnya target kali, ya. Resolusi saya antara lain dalam hal ibadah, tugas sebagai istri, ibu, dan anak, serta dalam hal peningkatan keterampilan diri. 

Melihat kondisi lingkungan perumahan kami akhir-akhir ini, saya sadar bahwa saya harus memasukkan beberapa target dalam Resolusi Hijau 2015. 

Semua kebiasaan baik berawal dari keluarga. Jadi, saya mulai ingin melakukan beberapa hal mulai dari diri sendiri dan keluarga terlebih dahulu. 

Resolusi Hijau 2015 saya dan keluarga, adalah:

- Menghemat penggunaan listrik dan air, serta menggunakan peralatan elektronik yang hemat listrik.

- Memasak dan mengambil makanan secukupnya, sehingga bisa meminimalisasi sampah. 

- Menggunakan produk pembersih dan toiletries yang ramah lingkungan alias non-detergent.

- Membuat produk daur ulang atau membuat proyek DIY bersama anak-anak dari barang bekas, seperti botol plastik, kardus, atau barang non organik lainnya. Intinya, ingin menggalakkan prinsip 4R: Reduce, Reuse, Recycle, Replace.

Karya Daur Ulang (dok. pribadi)


- Mendaftar di bank sampah sebagai anggota. Untungnya dekat rumah saya sudah ada bank sampah. Jadi, barang non organik yang tidak akan kami gunakan, bisa diberikan ke bank sampah. Lumayan, selain ikut serta berpartisipasi meminimalkan sampah, juga bisa nambah-nambah uang belanja. 

Contoh Bank Sampah (http://kampung-hijau-matahari.blogspot.com)


- Halaman depan rumah saya sengaja dipasang paving block, agar bisa menyerap air. Seharusnya sih dibuat lubang biopori. Tapi, sepertinya tahun ini saya belum akan membuatnya, karena ingin lebih konsentrasi menghijaukan halaman depan alias berkebun. Penginnya sih berkebun sayuran, selain menghijaukan, juga bisa mengurangi uang belanja. Saat ini, halaman depan rumah kami lebih banyak ditanami tanaman hias. Selama ini kami menggunakan pupuk organik untuk mengurangi limbah pestisida.


Tanaman Depan Rumah (dok. pribadi)

- Menggalakkan kembali diet plastik dan styrofoam. Diet kantong plastik dengan membawa tas belanja atau kardus bila berbelanja dalam jumlah banyak. Diet styrofoam bisa dengan membawa kotak makanan atau memilih bungkus makanan yang lebih ramah lingkungan.


Diet Plastik dan Styrofoam (dok. pribadi)



Permasalahan Konservasi Sumber Daya Alam

Tantangan negara berkembang dalam era sekarang (industrialisasi) adalah permasalahan lingkungan. Karena, seringnya permasalahan lingkungan sering terabaikan dalam pemecahan suatu permasalahan negara, akibat lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi atau politik.

Ternyata, masih banyak lagi masalah lingkungan yang cakupannya lebih luas (global). Permasalahan lingkungan seperti polusi, kerusakan hutan, dan kepunahan beberapa spesies binatang dan tumbuhan yang sebenarnya dampaknya besar bagi keberlangsungan kesejahteraan hidup manusia. 

Permasalahan lingkungan tersebut bisa disebut juga permasalahan konservasi sumber daya alam. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990,   konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Dari permasalahan konservasi sumber daya alam tersebut, saya jadi mencari tahu, apa yang bisa saya lakukan mulai dari rumah. Beberapa resolusi hijau saya selanjutnya adalah: 

1. Mengurangi penggunaan BBM. Bisa dengan menggunakan angkutan umum atau berjalan kaki kalau jaraknya dekat. Selain menghemat pengeluaran bulanan, kami juga ikut serta meminimalkan polusi. 


2. Mengurangi penggunaan hasil dari penebangan hutan, seperti kertas dan kayu. Ini kayaknya agak sulit, karena penggunaan kertas dan kayu sudah umum dalam keseharian kita. Solusinya mungkin adalah menggunakan kertas seminimal mungkin dengan menggunakan kertas secara bolak balik, dan menggunakan jenis kayu yang bersumber dari hutan rakyat atau minimal hutan tanaman. 

Hutan Rakyat (www.metro.sindonews.com)


3. Mengajak anak-anak untuk mengenal dan mencintai sumber daya alam Indonesia dengan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa yang melimpah. Harapan saya mereka bisa menyebarluaskannya kelak ke sekitar mereka. Atau, siapa tahu kelak mereka bisa berkiprah melestarikan lingkungan Indonesia, sebagai pelaku atau penentu kebijakan. 

Kebun Binatang, Yuk! (dok. pribadi)


4. Mau mulai mengenalkan pada anak-anak tentang kawasan ekowisata (tempat wisata berwawasan lingkungan). Bertahap, sih. Dimulai dari yang dekat dulu, seperti kawasan ekowisata mangrove, di Jakarta. Mengenalkan pada anak-anak fungsi kawasan mangrove bagi kehidupan kita dan peran kawasan ekowisata terhadap masyarakat lokal. Kesejahteraan masyarakat lokal dalam suatu kawasan ekowisata sangat penting, karena mereka yang akan menjaga kawasan tersebut.

Hutan Mangrove Jakarta (www.hutanmangrovejakarta.com)


5. Menulis di media atau minimal di blog tentang lingkungan hidup, untuk membantu penyebaran kesadaran lingkungan yang baik. 

6. Mau mulai mencari organisasi lingkungan yang aktif mengadakan kegiatan lingkungan yang melibatkan anak-anak. Salah satu organisasi lingkungan (konservasi alam) yang ada di Indonesia adalah The Nature Conservancy Program Indonesia (TNC). 



TNC telah bekerja dalam kemitraan konservasi di Indonesia selama 22 tahun yang berupaya meningkatkan kesejahteraan Indonesia tanpa mengorbankan keberlanjutan alam dengan melakukan serangkaian kegiatan pengelolaan kawasan lindung, konservasi spesies penting, dan pemberdayaan masyarakat.

Misi TNC adalah melestarikan daratan dan perairan yang menjadi sandaran bagi semua kehidupan, sedangkan visi TNC adalah mewariskan kehidupan alam yang berkesinambungan bagi generasi mendatang. Kegiatan yang

Preservasi

Resolusi hijau yang saya tulis tersebut ternyata disebut juga Preservasi, yaitu serangkaian tindakan yang dilakukan untuk menjaga dan mempertahankan kelestarian alam. Dan, kegiatan preservasi ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Jadi, tidak ada alasan buat kita untuk tidak mulai bertindak dalam ikut serta menyelamatkan lingkungan. 

Yuk, buat juga resolusi hijau-mu! 







Komentar

  1. resolusi yang paling mudah emang dilakukan mulai dari diri sendiri dan keluarga ya mak :)

    BalasHapus
  2. huwa betul mak semua harus segera dimulai :)

    BalasHapus
  3. Setuju mak mulai dr diri sendiri dr lingkungn terkecil. Btw bank sampah itu ada dimana saja ya mak

    BalasHapus
  4. dari diri sendiri ya Mba...hijau itu adem

    BalasHapus
  5. Betul betul betul, mulai dari sendiri dan keluarga dulu aja ya ^^

    BalasHapus
  6. Aku seneng tuh kalau dapat goodie tas kaya gitu bisa dipake ulang dirumah

    BalasHapus
  7. Mudah3an ga cuma sampai resolusi yaaa, mari kita hijaukan diri & keluarga

    BalasHapus
  8. iya setuju banget mak, aku juga mulai mengurangi sampah plastik dan penggunaan plastik saat belanja sayur :)

    BalasHapus
  9. Kasus banjir desember 2014 dipulau sumatera membuat saya berpikir utk melakukan sesuatu jgan sampai kebanjiran lagi

    BalasHapus

Posting Komentar