Bukan Cuma Anak yang Punya Peer :)

Di FB, lagi banyak yang sharing link tentang pornografi pada anak. Serem bangeeet, asli. Apalagi, anak saya tiga-tiganya cowok. Loh, emang kenapa kalau cowok?

Baca deh di link ini http://islamisfun.wordpress.com/2014/02/16/karena-bu-risma/ . Bagus banget penjelasannya. Bahasanya santai tapi mengena alias mak jleb. Nah, di sini, dibilang kalau anak cowok pada usia pra remaja alias umur 8-12 tahun itu lebih reaktif terhadap pornografi, karena ya hormon testoteron mereka jauh lebih tinggi dibanding anak perempuan.

Nah, pemaparan tentang gambaran pornografi di usia SD-SMP, bagaimana cara kerja otak menyangkut pornografi, sampai bagaimana usia pra remaja bisa terpapar pornografi, lengkap di artikel ini. So, saya mau sharing apa ya? :D

Ini jadi peer banget buat saya dan suami untuk lebih memperbaiki pola pengasuhan, sehingga paling gak benteng pertahanan anak menghadapi pornografi lebih kuat.
Beberapa hasil kesimpulan saya, antara lain:

1. Lebih memilih bacaan dan tontonan buat anak. Ini peer banget bo. Lah, lha wong anak-anak, selain dinosaurus, ya sukanya film Transformers. Mereka suka robot. Dan, kayaknya mulai sekarang, kesukaan mereka pada robot harus dialihkan dalam bentuk lain, seperti buku mewarnai, atau sekalian saja kursus robotic kali ya :D

Untuk televisi sih sebenarnya gak terlalu masalah. Kami membatasi jadwal menonton, maksimal sekitar 2-3 jam sehari. Iya, itu juga masih kebanyakan sih ya hehehe… Tapi, sebagai bentengnya, saya memilihkan tontonan yang sesuai usia mereka, dan mendampingi. Sibuk lah saya tanya-tanya tentang jalan cerita filmnya. Maksudnya sih, biar kecerdasan verbal juga tetap terasah. Lah, mereka lama-lama sebal kayaknya, lagi konsen nonton ditanya-tanya mulu sama emaknya hihihi… *yak, mulai ngelantur*

Kalau buku, untungnya sih karena setiap mereka beli buku, selalu lewat sensor emaknya, ya masih batas aman. Peernya sih membuat mereka menyukai buku yang berkualitas, sehingga bila tiba saatnya mereka bisa memilih sendiri jenis bacaan yang disukai, minimal ya masih dalam batas aman lah. Easy said than done sih ya :p

2. Nah, iniii dia. Kami harus belajar banyak tentang mengenalkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini. Ini sih kami masih blank banget. Tapi, mulai pelan-pelan baca teorinya, dan dipraktikkan dwoonk insya allah.

3. Jugaaa, banyak baca tentang mengasuh anak sesuai jenis kelamin, karena ternyata beda banget. Dan, sebagai perempuan, jelas saya masih ‘meraba-raba’ tentang cara mengasuh dan mendidik anak laki-laki. Untunglah, sekarang banyak artikel dan buku yang bisa dibaca mengenai ini.

4. Membentengi mereka dengan ilmu agama. Penginnya dimulai dari usia dini, mengenal tentang akidah, tauhid, adab, akhlak, dan lain-lain. Eits, ini juga masih peer buat saya. Hahaha… peernya banyak beut yak. Lah, coba, saya bacakan buku yang judulnya Aku Ingin Masuk Surga. Dan, mereka cuek aja tuh *tepok jidat*. Saya yang intropeksi, berarti cara penyampaian saya tidak menarik, atau juga ya butuh proses ya. Artinyaaa, emaknya harus sabar mengenalkan ilmu agama ini.

5. Yang juga penting, tidak mencabut dunia bermain dari anak-anak. Tidak menuntut mereka untuk berprestasi, tapi tetep dong mereka diajari untuk melakukan yang terbaik. Dan, membuat saya dan suami sebagai sahabat yang menyenangkan buat anak-anak. Jadi, mereka bisa curhat tanpa khawatir dihakimi dan diomeli. Susyaaaah nih, soalnya saya kan suka ngomel hihihi…*selotip mulut*

6. Kami sebagai ortu cuma bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik yang kami bisa. Hasilnya, ya banyak-banyak berdoa. Semoga semua usaha kami diberi kemudahan dan mereka dijauhkan dari segala marabahaya. Semoga mereka juga punya pertahanan diri yang kuat, sehingga bisa membentengi segala ujian dan godaan yang menghadang. Aamiin :)


Komentar